Penulis: Chaka Priambudi

Salam sejahtera bagi kita semua, sebelumnya saya mau menjelaskan sedikit beberapa latar belakang tulisan ini.

Seringkali ketika seseorang hendak memutuskan mengambil profesi menjadi musisi/praktisi musik maka timbul pertanyaan, “Mau makan apa dari musik?” “mau jadi pengamen?” “Lho bukannya musik itu hobi ya?” dan beberapa pertanyaan lainnya yang intinya meragukan peluang kesuksesan seseorang di bidang musik.

Pertanyaan semacam itu juga dialami penulis ketika memulai karirnya pada 2006 silam, kala itu penulis mendapat kesempatan untuk CPNS dan dapat iming-iming akan ‘dipermudah’ oleh keluarga yang sudah punya jabatan sebagai pegawai negeri.

Namun sebenarnya bukan soal pekerjaan apa yang lebih baik, tapi pekerjaan apa yang cocok dengan hati nurani anda? Kalau anda belum punya jawabannya, penulis akan bagikan sedikit beberapa pengalaman yang mudah-mudahan bisa jadi inspirasi bagi anda semua.

1.Session player

FB_IMG_1550279446815.jpg

Menjadi musisi yang bekerja untuk berbagai band atau session player bukan pekerjaan yang mudah, selain anda dituntut piawai memainkan alat musik, wawasan yang luas tentang style, genre, perbendaharaan lagu juga harus banyak agar tidak kehabisan stock apalagi ketika mendapat request dari tamu.

Hal pertama yang penulis jalani adalah menjadi session player untuk sebuah band jazz yang rutin tampil di cafe/bar/restoran yang menyediakan hiburan live music. Bermodalkan instrument doublebass atau yang akrab disebut kontrabas/bass betot, Penulis memainkan repertoire Jazz Standards hampir setiap malam ketika tampil reguler.

Tak hanya band Jazz, penulis juga terlibat menjadi musisi pengiring untuk beberapa artis penyanyi ,  band wedding pop yang meng-cover lagu top 40, rock, country, reggae, keroncong, Big Band, hingga terlibat di dalam sebuah orkestra musik klasik.

Ketika siang hari, Penulis juga menempuh pendidikan formal sebagai mahasiswa di sebuah kampus musik swasta.

2.Pengajar musik

Punya ilmu harus diamalkan, begitulah alasan mengapa pekerjaan mengajar musik merupakan urutan kedua.

Ada berbagai macam subjek musik yang penulis dan juga teman -teman jalani, diantaranya sebagai pengajar teori musik, pengajar vokal (vocal coach), guru alat musik dll.

Tempat mengajar pun bervariatif, mulai dari workshop didalam komunitas, instruktur musik tempat les, les privat ke rumah maupun sekolah, sampai menjadi mentor untuk perkuliahan musik.

3. Sewa Alat Musik

Memiliki alat musik kontrabas merupakan suatu keuntungan tersendiri bagi penulis, sejak 10 tahun lalu sekitar 2008, alat musik kontrabas milik penulis sering disewa untuk pemotretan iklan, properti syuting film, juga untuk dipakai oleh musisi tamu yang datang dari luar negeri.

Pengetahuan mengenai spesifikasi alat yang tepat untuk kebutuhan klien sangat berperan disini, sebagai contoh ketika penulis menyewakan untuk sebuah agensi periklanan dimana modelnya adalah orang asing (bule) yang tidak bisa bermusik, disini penulis juga sekaligus menjadi penata gaya agar model terlihat benar secara teknik meski hanya untuk pemotretan.

4. Transkripsi Musik

Banyaknya PR di kampus untuk mengulik lagu-lagu baru tentunya secara tidak langsung melatih skill penulis untuk membuat transkripsi musik berupa not balok.

Suatu hari ada tawaran untuk membuat notasi beberapa lagu dari band rock yang akan berkolaborasi dengan strings orchestra, sedangkan sang arranger tidak sempat membuat transkripsi karena kesibukannya. Maka penulis berinisiatif menerima pekerjaan tersebut, dengan menulis melodi utama dan chord lagu-lagu tersebut sehingga memudahkan sang arranger menerapkan arransemen dalam orchestra.

Pernah juga penulis mendapat kesempatan membuat transkripsi untuk band pop era 90an The Fly. Transkripsi tersebut digunakan untuk pengukuhan hak cipta si pemilik lagu, selain itu agar memudahkan proses klaim royalti.

5. Arranger

Penulis menekuni pekerjaan arranger sejak di bangku perkuliahan, dimulai dengan membuat versi irama lain dari sebuah lagu, mereharmonisasi akor lagu, hingga menentukan instrumen yang tepat untuk mengiringi dalam sebuah ensemble.

Pengetahuan tentang karakter dan fungsi alat musik juga sangat dibutuhkan mengingat setiap instrumen memiliki jangkauan nada yang terbatas dan membagi range suara agar tidak terjadi dissonant atau harmony yang menumpuk.

6.Penulis Lagu

Menulis lagu sebetulnya pekerjaan penting dalam musik, terutama menciptakan karya orisinil yang dapat direkam dan dinyanyikan.

Genre awal yang penulis pilih adalah menciptakan lagu instrumental kemudian penulis sempat ikut kompetisi musik instrumental bertema lingkungan hidup dan memenangkan peserta terbaik lewat lagu berjudul Caterpillar.

Penulis sempat membuat lagu berjudul 168 yang dinyanyikan oleh Monita Tahalea.

Penulis juga baru baru ini mendapat kesempatan menjadi salah satu nominasi AMI award 2018, untuk 3 kategori yakni pencipta lagu anak lewat lagu Bintang-Luiza Aaliyah. Karya musik instrumentalia  terbaik lewat lagu Topeng Monyet – Lantun Orchestra dan karya produksi world music untuk lagu pecinan.

7. Produser

Menjadi produser rekaman tentunya hal yang lebih kompleks dan memiliki tanggung jawab lebih terhadap proses produksi dibandingkan sekedar menjadi pemain musik.

Pekerjaan ini dimulai oleh penulis sejak tahun 2010, waktu itu menggarap single milik seorang penyanyi RnB yang juga salah satu finalis Indonesian Idol Karen Pooroe.

Penulis membuat arransemen, kemudian menghire musisi, menentukan studio rekaman, mendampingi take vokal, hingga terlibat dalam proses final mixing dan mastering. Beberapa hal tersebut belum termasuk kewajiban lain seorang produser yang harus cermat mengawasi budgeting sebuah kegiatan produksi.

8. Music Director

Penulis menjadi music director pertama kali untuk band pengiring penyanyi yang tampil di java jazz festival 2012. Menjadi music director membutuhkan kemampuan untuk memilih pemusik bahkan jika perlu maka diadakan audisi. Kemudian seorang MD harus mampu mengarahkan rekan-rekan musisinya menyesuaikan style yang dimaksud dalam aransemen dan menerapkannya pada performa diatas panggung.

9. Conductor (Pengaba)

Berbekal pengalaman bermusik dalam ensemble big band dan orchestra, Penulis sangat akrab dengan cara beberapa konduktor dalam memimpin sebuah grup musik. Suatu ketika ada kesempatan datang dari seorang kawan yang membuat aransemen strings orchestra dan mempercayakan penulis sebagai konduktor pada recitalnya. Sejak saat itu penulis tampil beberapa kali sebagai konduktor, termasuk ketika penulis menjadi konduktor orchestra untuk event peluncuran buku di hotel ternama di jakarta.

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: